RSS

“ Gurita dan Dahi yang Tak Berkerut “

22 Feb

1

Bagi Mulyana atau akrab dipanggil Moel, membuat karya untuk sebuah pameran seni rupa, sepertinya tidak harus membuat benda-benda yang khusus, ia bisa berupa benda yang sudah akrab dalam keseharian. Begitupula proses membuatnya, ia tidak harus sebuah kegiatan yang khusus dengan berbagai tahapan dan “ritualnya”, ia bisa saja kegiatan biasa yang bisa juga dilakukan oleh orang banyak bahkan berupa kegiatan senang-senang pengisi waktu luang. Itulah diantaranya, tangkapan yang bisa didapat dari acara Pameran Tunggal Moel, yang diberi judul “Mogus World”, digelar di Galeri Gerilya.

Tidak ada kesan yang asing atau aneh, ketika melihat karya-karya Moel yang ada di dalam bangunan rumah (mungkin karena ini kemudian disebut sebagai ruang alternatif) yang tidak terlalu besar itu. Kita melihat berbagai macam boneka dengan berbagai macam ukuran dan warna-warni yang cerah semarak. Boneka-boneka ini dibuat dengan teknik rajut, yang juga, tidak berbeda dengan teknik rajut biasanya. Bisa benar, apa yang ditulis oleh Maradita, kurator pameran ini, bahwa bagi orang yang tidak kenal dengan Moel, tidak akan mengira bahwa boneka-boneka ini dibuat oleh tangan seorang laki-laki. Dan bukankah ini bisa menjadi nilai lebih dan ciri khas Moel, sebagai seniman laki-laki…?

2

Melihat boneka-boneka gurita Moel, kita disuguhi rupa gurita yang jauh berbeda dengan gurita nyata yang lebih terlihat seram dan menjijikkan dengan tubuhnya yang lunak dan licin serta dengan tentakel-tentakelnya. Gurita-gurita Moel berwarna-warni, dan tampil dengan berbagai macam bentuk, ukuran dan terutama berbagai mimik wajah. Ada yang bermata satu, dua dan lebih banyak lagi. Ada yang berekpresi biasa-biasa saja, ada yang tertawa, bengong adapula yang memiliki ekspresi wajah konyol. Ya, gurita-gurita Moel adalah boneka yang bersifat ‘kartunal’ (menonjolkan kesan lucu). Pada gurita-gurita Moel, kita juga bisa melihat berbagai pengolahan bentuk dari penyederhanaan (abstraksi), pemiuhan (distorsi) adapula penggayaan (stilasi).

Karya Moel kali ini, mengisi tiga ruangan yang ada. Dua ruangan terisi penuh oleh karya Moel yang terdiri dari berbagai macam makhluk laut, sementara satu ruangan berisi sebuah karya berbentuk gurita raksasa. Pada dua ruangan awal, karya Moel bersifat instalasi, keberadaannya mempengaruhi dan dipengaruhi ruang yang ada di sekelilingnya. Memasuki kedua ruangan ini, kita seakan berada di dalam “dunia mogus” yang dibuat Moel. Kita seperti bersama-sama berdesakkan dengan makhluk-makhluk laut karya Moel. Karya Moel pada kedua ruangan ini memang mencoba melibatkan kehadiran kita sebagai pengamat. Tapi, meski begitu tetap ada jarak antara kita (pengamat) dengan karya karena meski ia adalah karya instalasi, karya-karya Moel ditata tepat di tengah ruangan sementara kita hanya bisa berada di sekelilingnya (di pinggir) sambil mengamati. Seandainya Moel membuat karya lebih banyak lagi dan benar-benar memenuhi di berbagai sudut ruangan, bisa terbayang bagaimana kita yang datang, tidak hanya berada di pinggir tetapi bisa juga masuk ke tengah-tengah karya (makhluk-makhluk laut mogus). Kita tidak lagi hanya mengamati makhluk-makhluk laut mogus, bersamaan dengan itu kita sekaligus juga diamati oleh makhluk-makhluk laut itu. Keterlibatan kehadiran kita bisa jadi lebih terasa, karena dengan begitu, kita tidak lagi hadir sebagai orang asing yang mengamati, lebih dari itu kita bisa seolah menjadi makhluk-makhluk dunia mogus itu sendiri. Dan kita juga bisa membayangkan, dalam suasana seperti itu, bisa saja terjadi interaksi antara kita dengan para makhluk (karya) itu. Sentuhan atau senggolan yang bisa mengakibatkan makhluk-makhluk (karya) yang tergantung bergerak-gerak atau bergoyang-goyang. Gerakan yang bisa menambah kesan hidup pada makhluk-makhluk karya Moel.

3

Akhirnya, kita sudah berkunjung ke ‘dunia mogus’ Moel. Kita tentu boleh bersetuju, bahwa ‘dunia mogus’ bikinan Moel memberikan pada kita suasana dan kesan yang menyenangkan dan ceria. Kita juga boleh bersepakat, melihat karya ‘dunia mogus’ Moel kita tidak terpaku di depan karya sambil mengkerutkan dahi atau meng-angguk-angguk-an kepala. Lain dari itu, kita justru berjalan mendekati tiap karya dan mencoba melihat tiap detil karya satu per satu dan mencoba menyentuhnya atau kalau tidak kita akan berpose macam-macam untuk diambil foto bersama karya-karya Moel. Respon yang lebih melibatkan fisik kita. ‘Dunia mogus’ Moel kali ini telah memberikan pengalaman yang ‘rekreatif’ pada kita yang datang. Kita, saya dan anda pulang meninggalkan pameran Moel kali ini dengan pengalaman dan perasaan yang menyenangkan dan terhibur. Meski ada tersisa pertanyaan bagi saya, apa saja yang sebenarnya sedang dibagikan Moel untuk saya dan anda melalui karya ‘dunia mogus’-nya kali ini…? Tentu, imajinasi dan fantasi Moel dalam membuat ‘dunia mogus’-nya serta perasaan senang dan terhibur karena melihat bentuk-bentuk yang lucu dan warna-warni yang cerah. Selain dari itu…? Saya dan anda mungkin tidak benar-benar bisa dengan jelas melihat dan menemukan dari karya-karya Moel kali ini, dengan begitu kita boleh bertanya langsung pada Moel untuk menemukannya…

-### danoeh tyas ###-

-tulisan untuk Galeri Gerilya-

 

Tentang &oeh

yang biasa-biasa
Leave a comment

Posted by pada Februari 22, 2012 in airSeni

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.